|
Benci jadi Cinta Ubay pada Teater dan Politik
Pasti kanca muda sering dengar dong, kalau antara benci dan cinta itu bedanya sangat amat tipis. Kutukannya, kalau terlalu benci, bisa-bisa jadi cinta. Banyak sudah korban benci jadi cinta ini. Salah satunya, Zainudin Ubay dari SMA Muhammadiyah 2 Surabaya (Smamda).
Tapi ini beda kanca muda, Ubay bukan benci jadi cinta pada seseorang, tapi pada sesuatu. Yup, cowok bertubuh subur ini benci jadi cinta pada politik dan teater. ”Aku benci politik, karena kesannya jahat banget, kalau anti teater karena pengalaman nggak asyik waktu MOS dulu,” ungkapnya.
Penerimaan siswa baru di Smamda biasanya diikuti dengan kegiatan promosi eskul-eskul yang ada di sekolah ini. Waktu melewati lokasi ekstrakulikuler teater, Ubay, panggilan akrabnya sempat dijadikan bahan tertawaan para kakak kelas. ”Istilahnya digojloki lah. Disuruh akting, dimarahi dan diketawain,” kenangnya. Jelas, Ubay kesel banget. Pikirnya, apa sih itu teater, sekedar eskul sandiwara aja.
Waktu sudah mulai masuk sekolah, salah seorang teman, Ayu namanya, mengajak Ubay untuk daftar eskul ini. Awalnya, Ubay menolak mentah-mentah. ”Tapi, ayu membujuk. Katanya aku bisa membuktikan diri di eskul ini kalau aku nggak Cuma bisa diolok-olok aja. Hmm, akhirny aku ikut,” ceritanya.
Singkat cerita, Ubay mengikuti diklat eskul ini sampai ke Malang. Di sini Ubay jatuh cinta dengan teater. ”Aku merasa menemukan bakatku disini. Akhirnya aku jatuh cinta sama teater sampai sekarang,” ujarnya. Berkat teater pula, Ubay banyak memenangkan penghargaan. Public speaking, mengatur emosi dan pilihan kata, adalah ilmu yang banyak diajarkan di teater secara tak langsung.
Ubay pernah memenangkan Juara 1 Lomba Debat Islami yang diadakan oleh ITATS dan Juara 3 Universitas Narotama tahun 2009 ini. Ia juga pernah memenangkan lomba monolog dalam Dies Natalis Teater-Q di tahun yang sama. Prestasi lainnya banyak ia boyong bersama tim teater Smamda.
Cowok kelas XII ini suka bergorganisasi dan mulai mencobanya sejak SMP. Ubay yang sekolah di SMP IPIEMS waktu itu menjadi ketua OSIS. ”Itu saran mamaku kalau nggak salah. Pesen ortu aku kudu membanggakan nama sekolah,” kata Ubay. Di Smamda, Ubay melanjutkan perjuangan berorganisasi dengan kembali menjadi ketua IBM, sejenis ketua OSIS untuk sekolah Muhammadiyah.
Belajar berorganisasi secara tidak langsung belajar politik juga. ”Ada kewenangan, dipimpin dan yang dipimpin. Organisasi ini ibarat pemerintahan kecil. Akhirnya aku mulai tertarik dengan politik,” lanjut cowok yang bercita-cita menjadi pengusaha seperti Ciputra ini.
Ketertarikannya karena ia pengin tahu, apa sih yang membuat politik demikian kotor? ”Aku mikir semuanya dinilai pakai uang. Itu pendapatku sih. Makanya aku cari tahu, toh nanti negara ini yang ngurusin juga generasi muda,” ujarnya. Karena itu, Ubay sekarang tergabung dalam salah satu partai politik.
Di parpol ini, Ubay adalah anggota termuda, sebab anggota lainnya kebanyakan mahasiswa dan orang yang sudah bekerja. Di sini, Ubay belajar banyak hal. ”Politik yang kita anggap nggak bener ini, jangan kita jauhi. Kita harus peduli dan berpikir kritis, biar nggak salah selamanya,” pungkasnya. (puspita)
Facebook : Zainudi Ubay (Zainudin_ubay@yahoo.com)
|