|
Dream Team Bukan Jaminan
The Best doesn’t mean always do and be the best. Pelajaran berharga, bahwa orang yang terbaik (The Best) nggak selamanya melakukan yang terbaik dan lagi-lagi menjadi yang terbaik. Selalu ada faktor X yang harus dihadapi untuk membuktikan mental “The Best”nya itu. Hal inilah yang dialami Progressive, band dari SMAN 14 Surabaya di audisi seri Sabtu, 19 Juni lalu. Ya, Progressive memang punya amunisi personil kawakan. Band yang beranggotakan Carry (vokalis), Rizal (drum), Yugo (gitar) dan Hasbi (bass) ini, semuanya pernah menjadi the best di masing-masing bidangnya, baik di ajang kompetisi sekolah ataupun di luar sekolah. Carry beberapa kali menjuarai singer competition, best vokalis dan kompetisi serupa. Dalam suatu lomba band di sekolah, Rizal dinobatkan sebagai best drummer, Yugo menjadi best gitaris, dan Hasbi sebagai best bassist.
“Tapi kami bukan band yang the bestnya dikumpulin trus dikirim sekolah untuk ikuta Skool bandfest ini lho ya. Cuma Carry aja yang baru masuk, kami sih ngeband dari dulu, dan gelar itu kami raih dengan band ini juga,” ungkap Rizal, sang drummer. Karena sudah menjadi band adalan sekolah, harapan mereka besar di EBS Skool Bandfest ini, yaitu mengangkat derajat anak band di sekolah.
Menurut mereka, saat ini kegiatan non-akademik yang menjadi kebanggaan sekolah adalah basket. Olahraga ini sangat populer dan berprestasi, sehingga menjadi anak emas sekolah baik dalam perijinan dan juga fasilitas. “Kalau untuk anak band, di dukung sih, hanya nggak seistimewa anak basket,” imbuh Hasbi. Nah, lewat kesempatan ini, mereka ingin unjuk gigi bahwa anak band juga bisa mengharumkan nama sekolah. Namun sayang, ketika audisi berlangsung terdapat beberapa kesalahan teknis dalam alat-alat band. Keadaan ini membuat emosi mereka naik turun, terlihat dari mimik wajahnya. Dan hal ini mempengaruhi permainan mereka, meskipun sama sekali tidak fatal. Juri pun sempat memuji “Skillnya cukup bagus sih, saya ngerti kalau kalian moodnya down,” ujar Joe, juri yang kerap di panggil peserta juri rambut gondrong. Kritik pedas lainnya tetap mengikuti seperti masalah waktu, arasemen, harmonisasi dan stage act.
Keluar dari ruang audisi mereka nampak sangat kecewa, tidak seperti ketika masuk dengan percaya diri. Band yang membawakan lagu Phobia dari Kotak ini gagal tampil all out di ajang yang bisa jadi pembuktian ini. “Padahal kita udah latihan mantep. Seandainya ada kesempatan kedua, tanpa kesalahan teknis, kita pengen buktikan kalau kita bisa tampil jauh lebih baik dari yang tadi,” ungkap Yugo, sang gitaris. Jadi, selain skill the best, yang harus dipersiapkan adalah mental terbaik untuk menghadapi segala kondisi. Jangan menyerah!! (puspita)
Kunjungi website EBS Skoolbandfest untuk pendaftaran, foto dan video
|