|
Kelepasan Teriak Tengah Malam
Satu bola diperebutkan dua puluh orang yang berlari mati-matian mendapatkannya. Dua lainnya menunggu di tiang kotak berjaringnya, masing-masing. Kedengaran membosankan? Whuah, padahal ini adalah sepak bola. Olahraga paling populer di seluruh dunia. Tapi, begitulah faktanya kalau sepak bola ditonton sendirian. Membosankan.
Paling nggak, begitulah bagi Adib Ilhamsyah dan M. Iqbal Adityarso dari SMP Muhammadiyah 12 GKB Gresik. Dua sahabat ini selalu nonton bola ramai-ramai. ”Kalau nonton sendirian, kayak sayur tanpa garem dikasih gula. Aneh rasanya, haha,” canda Adib. Entah sama keluarga atau sama temen-temen, mereka sepakat kalau nonton bola paling asyik kalau nggak sendirian.
Nah, karena itu mereka jadi sering banget mengadakan nonton bareng. ”Jadwalnya gantian, tapi paling sering sih di rumahku. Soalnya keluargaku gibol semua juga,” ungkap Adib. Biasanya yang ikut nobar ini lima sampai enam orang. Pertandingan sepak bola yang diputar tengah malam pun jadi semarak.
Pertama kali nonton bola bareng, mereka masih canggung. Nonton bola diem-dieman soalnya nontonnya tengah malam. ”Nggak enak hati kan kita sama keluarganya Adib,” ujar Iqbal. Tapi dasar bocah-bocah, meski ditahan-tahan tetep aja kelepasan. Mereka berteriak teriak saat gol berhasil dilesakkan tim kesayangannya ke gawang lawan. Hiruk pikuk tingkat tinggi.
”Trus setelah sadar kita diam. Ups, maaf ya dib. Dan mamanya Adib keluar. Kirain mau marahin,” cerita Iqbal. Semuanya tertunduk dan diam seribu bahasa, merasa bersalah. Tapi, ternyata mamanya Adib keluar membawa cemilan dan bilang, ”Tante kira pada ketiduran kok nggak ada suaranya. Ternyata dari tadi diem-dieman. Nggak apa-apa teriak-teriak aja. Nggak kedengeran kok. Ditahan-tahan ga enak loh.”
”Waahhaha,waktu itu aku ngakak. Temen-temen ini lucunya, aku kerjain. Keluargaku udah biasa kali, orang kita semua kan gibol. Jadi kalau nonton ya wajib teriak,” timpal Adib. (puspita)
|