|
Insan Baca Tebar Virus Doyan Buku
Buku adalah jendela dunia. Yakin deh, nggak satupun dari kita yang asing dengan petuah klasik ini. Meski kalimat ini dari jaman baheula, tapi sampai sekarang kata-kata ini nggak basi. Emang bener buku bisa jadi jendela dunia, bahkan sekalian pintunya, he he he. Meski punya pesaing berat bernama e-book dan artikel-artikel hebat di internet yang murah meriah, buku masih keukuh dicintai.
Nah, mereka-mereka yang cinta buku segala jenis, mulai komik, novel, majalah, karya sastra atau apapun yang bermedia cetak, biasanya punya perpustakaan sendiri di rumahnya masing-masing. Dan ternyata kanca muda, mereka yang doyan baca dan punya banyak koleksi buku ini bikin komunitas yang namanya Insan Baca.
Insan Baca club ini merupakan jaringan taman baca & perpustakaan independen pertama di Surabaya. Pencetusnya adalah Prita HW yang impian masyarakat surabaya bisa menjadi masyarakat yang melek baca. “Skripsiku waktu itu tentang perpustakaan independen, nah karena kenal banyak sama orang-orang yang punya perpustakaan sendiri, kenapa nggak sekalian bikin komunitas,” ungkap lulusan Ilmu-Ilmu Perpustakaan Unair ini. Sejak dibentuk tanggal 28 April 2007, Insan Baca club sudah berhasil mengumpulkan banyak anggota, bahkan ikut mendorong munculnya perpustakaan independen baru. Ada 9 rumah baca yang saat ini tergabung dengan puluhan volunteer yang doyan baca tentunya. Selain itu, mereka juga bekerja sama dengan toko buku untuk mengedarkan kotak Wanbuk (dermawan buku) untuk pengembangannya.
Harapan mereka dengan banyaknya rumah baca dan perpustakaan independen, banyak orang yang nggak segan untuk membaca buku. “Istilahnya bisa sharing lewat buku-buku ini. Orang bisa antusias, dan yang nggak mampu bisa tetap baca,” ungkapnya.
Yang perlu diacungi jempol, kanca muda. Rumah-rumah baca (rumca) yang ada di Insan Baca ini nggak sekedar menyediakan buku di rak-rak untuk dibaca, tapi juga punya segbrek kegiatan yang memancing minat baca anak-anak ataupun masyarakat luas pada umumnya. Tapi membuat membaca itu jadi kegiatan yang asyik dan menyenangkan.
Biasanya mereka mengadakan nonton film bareng, membuat kerajinan tangan, daur ulang kertas, belajar bersama pelajaran sekolah, bahkan di daerah-daerah yang ”rawan”, mereka sekaligus mengadakan belajar mengaji bersama. ”Anak-anak yang nakal-nakal, lingkungannya buruk, nah itu biasanya yang ada mengajinya. Dan percaya nggak percaya, anak-anak itu jadi punya kegiatan setelah ada Rumca, dan jadi lebih ”lurus”. Haha, alhamdulilah lah,” ungkapnya.
Untuk hajatan besar, Insan Baca sudah pernah mengadakan Gerakan Ayo Membaca pada 5 Agustus 2007, membuka stand di Pesta Buku Rakyar di Balai Pemuda, Smart Camp untuk Relawan dan masih banyak lagi. Kegiatan rutinnya, selain pertemuan anggota, mereka juga sedang merintis perpustakaan lesehan . ”Asyik banget perpus lesehan. Jadi kita boyongan tiap minggu, ke taman-taman di Surabaya seperti ini, kalau ada yang mau baca-baca, gratis..tis,” ujar Dian Anesti, anggota Insan Baca saat ditemui EBS di Taman Prestasi. Saat itu, perpus lesehan mereka sedang dikerubuti anak-anak kecil, main puzzle dan membaca komik.
Pengurus dan relawan Insan Baca adalah mahasiswa-mahasiswa dan anak-anak muda dari Surabaya. Umurnya rata-rata baru 20-26 tahun, tapi soal manajemen, jangan ditanya deh, kerennya. Buktinya, mereka tak pernah kehabisan ide untuk mewujudkan visi misi insan baca. Salut deh! (puspita)
|